"Inilah Panduan Mendapatkan Ribuan Dollar di Internet Terlengkap Dengan lebih dari 300 Cara, Tutorial dan Trik Rahasia" info lengkap Klik disini!

Inilah Perempuan Pertama Penakluk Everest

Gunung Everest bagaikan 'pahala surga' bagi para pendaki. Ada kebanggaan tak terkira bila bisa menaklukkan gunung  yang juga disebut sebagai Sagarmatha ("Kepala Langit" dalam bahasa Sansekerta).

Tantangan alam yang akrab dengan dunia lelaki ini juga diminati kaum wanita, dan memang sudah banyak perempuan-perempuan hebat yang berhasil mencapai puncaknya. Namun tahukah kamu siapa wanita pertama yang berhasil mendaki dan menaklukkan Puncak Everest?
 

Sekitar 39 tahun lalu, seorang wanita berkebangsaan Jepang menjadi wanita pertama yang berhasil dan selamat menaklukkan Puncak Everest. Dengan mengambil jalur normal yaitu punggungan tenggara, Junko Tabei mendaki hingga puncak pada tanggal 16 Mei 1975.

Seperti yang dilansir oleh JapanTimes.co.jp, prestasi Junko Tabei ini merupakan simbol perjuangan wanita Jepang untuk mendapatkan kesetaraan dan kebebasan memilih. Pada masa itu,  isu kesetaraan gender memang sedang hangat-hangatnya. Saat itu yang boleh bekerja di luar rumah hanyalah laki-laki sedangkan perempuan harus tinggal di rumah.

"Meskipun wanita sudah bekerja di luar rumah, mereka masih berkewajiban untuk menyajikan teh," ungkap Tabei.

 Tabei mengaku ia terinspirasi oleh Sir Edmund Hillary yang menjadi orang pertama yang menaklukkan Puncak Everest bersama dengan Sherpa Tenzing pada tahun 1953.



Tabei sang inspirator lingkungan
 

Tabei adalah teladan pecinta alam sejati. Ia tak hanya berfokus jadi penakluk puncak gunung tinggi, melainkan juga pemerhati lingkungan. Salah satu hal yang dilakukan sebagai bukti kepeduliannya adalah dengan meneliti masalah sampah di Gunung Everest ketika menempuh studi di Universitas Kyushu.

Hingga kini, wanita kelahiran 22 September 1939 belum berniat pensiun sebagai pendaki. Kamu bisa hitung berapa umurnya sekarang, kan? Ia mengaku sangat menikmati petualangan mendakinya ke gunung-gunung yang unik, walau dua anaknya sudah tumbuh dewasa.

"Tak pernah sedikit pun terbesit di pikiranku untuk berhenti mendaki--dan selamanya tak akan pernah--meskipun aku sudah melihat banyak orang meninggal di gunung dengan mata kepalaku sendiri," ungkapnya.






















Sumber:
vemale
Foto:
amyyeewrites
thrillophilia.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.